Quiet Luxury Menguat

Quiet Luxury Menguat, Gaya Hidup Anti-Pamer Kian Digemari

Hiduptrendi – Quiet Luxury Menguat sebagai fenomena gaya hidup global yang menandai pergeseran selera masyarakat modern, terutama di kota-kota besar dunia. Jika sebelumnya kemewahan identik dengan logo besar dan simbol status mencolok, kini tren justru bergerak ke arah sebaliknya. Tampilan sederhana, material berkualitas tinggi, dan desain tak lekang waktu menjadi penanda baru prestise sosial yang lebih halus namun berkelas.

Dari Flexing ke Elegansi yang Lebih Tenang

Quiet Luxury Menguat seiring meningkatnya kejenuhan publik terhadap budaya flexing di media sosial. Konsumen kelas menengah atas mulai meninggalkan gaya pamer berlebihan dan memilih pendekatan yang lebih understated. Busana dengan potongan rapi, warna netral, dan tanpa logo besar menjadi pilihan utama, mencerminkan kepercayaan diri tanpa perlu validasi visual dari orang lain.

Fenomena ini terlihat jelas di pusat mode global seperti Paris, Milan, dan New York. Para pengamat mode menilai pergeseran ini sebagai respons terhadap era digital yang terlalu riuh, di mana kesederhanaan justru menjadi bentuk kemewahan paling langka.

“Silent Concert & Silent Disco Jadi Solusi Baru Hiburan Kota”

Kualitas, Nilai, dan Keberlanjutan

Quiet Luxury Menguat tidak hanya sebagai tren estetika, tetapi juga cerminan perubahan nilai. Konsumen kini lebih kritis terhadap asal-usul produk, kualitas bahan, serta proses produksi yang berkelanjutan. Alih-alih membeli banyak barang bermerek, mereka memilih memiliki sedikit item dengan kualitas terbaik yang bisa di gunakan dalam jangka panjang.

Gaya hidup anti-pamer ini juga selaras dengan meningkatnya kesadaran lingkungan. Produk yang tahan lama dianggap lebih bertanggung jawab di bandingkan konsumsi cepat yang sarat simbol status. Dalam konteks ini, quiet luxury menjadi representasi kemewahan yang lebih dewasa dan etis.

Quiet Luxury sebagai Simbol Status Baru

Quiet Luxury Menguat sebagai simbol status baru yang tidak lagi bergantung pada pengakuan publik. Status sosial kini tercermin dari selera, konsistensi gaya, dan pemahaman akan kualitas, bukan dari seberapa besar logo yang di kenakan. Di kalangan profesional, kreator, dan generasi muda urban, gaya ini dipandang lebih autentik dan relevan dengan ritme hidup modern.

Pengamat gaya hidup menilai tren ini masih akan bertahan dalam jangka panjang, seiring meningkatnya kebutuhan akan ketenangan, privasi, dan makna dalam konsumsi. Quiet luxury bukan sekadar mode sesaat, melainkan refleksi perubahan cara pandang masyarakat terhadap kemewahan itu sendiri.

Di tengah dunia yang semakin bising dan penuh visual, gaya hidup anti-pamer justru tampil menonjol—tanpa harus terlihat mencolok.

“Cloud Kitchen Menjamur, Aroma Masakan Picu Protes Warga Kota”